Kisah bocah berusia 11 tahun murid kelas 4 SDN Patihan 1 Karangrejo
Magetan ini selain membuat heboh jagat maya, juga terbilang cukup
memilukan.
Lima tahun yang lalu, Desember 2013 merupakan bulan yang tidak pernah
dilupakan oleh Samuel Kristian, lantaran di saat itu, dirinya menjadi
korban kekejaman ayah tirinya, pagi-pagi dicekoki air keras yang
dicampur kopi.
Entah apa yang mengendap di benak Hariyanto (45) sang ayah tiri, Samuel dipaksa meminum kopi yang dicampur air keras.
Namun karena melawan, kopi bercampur air keras tersebut disiramkan
oleh Hariyanto ke wajah Samuel yang saat itu berumur enam tahun.
“Waktu TK kejadian itu,” kata Samuel membuka perbincangan saat
ditemui di rumahnya di Desa Patihan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten
Magetan, Selasa (22/01/2019).
[post_ads]
Ia mengaku tidak mengetahui latar belakang ayah tirinya menyiramkan
air keras ke wajahnya. Diceritakannya, kejadian itu berlangsung pada
pagi hari.
Waktu itu, Hariyanto ayah tirinya ke kamar Samuel dengan membawa kopi yang sudah dicampur dengan air keras.
“Subuh-subuh, saya disuruh meminum kopi. Saya tidak mau karena saya
kira airnya panas. Tapi dipaksa terus. Sudah kena mulut saya,” cerita
Samuel.
Saat itu juga, mulutnya langsung terasa panas dan dirinya berteriak
kesakitan. Hariyanto bukan berhenti malah semakin membabi buta dengan
menyiramkan air keras tersebut ke wajahnya.
“Saya tambah teriak dan menangis sejadinya. Saat itu ibu langsung ke kamar untuk melihat,” ujarnya.
Dirinya langsung dibawa oleh ibunya yang bernama Ismiatun ke
puskesmas. Namun dokter di puskesmas angkat tangan dan diminta untuk
dibawa ke rumah sakit umum daerah (RSUD) dr Sayidiman Magetan.
Saat berobat di RSUD dr Sayidiman Magetan, dokter memperban mulut Samuel yang masih duduk dibangku TK.
“Saya sendiri takut dengan wajah dan tubuh saya. Awal-awal tidak berani melihat wajah sendiri di kaca,” kata Samuel.
Saat ini, Samuel Kristian hidup bersama ibunya Ismiatun, nenek dan
kedua saudaranya. Walaupun serba kekurangan, namun keluarga mereka
terlihat harmonis.
Ismiatun ibu Samuel mengaku sampai sekarang belum bisa melupakan
kejadian 5 tahun silam tersebut. Dirinya hanya bisa meratapi Samuel yang
harus hidup dengan tubuh penuh luka bakar akibat air keras.
“Saya hanya bisa pasrah saja. Semenjak kejadian itu saya langsung
minta cerai dan suami saya ditangkap oleh polisi,” kata Ismiatun.
Latar belakang ekonomi Samuel yang berasal dari keluarga miskin juga
seolah menambah beban hidupnya. Namun bocah yang kini menginjak usia 11
tahun itu pantang menyerah.
Di sela kesehariannya sebagai seorang pelajar, Samuel aktif membantu
ibunya membuat batu bata. Tak peduli meski warga Dusun Donowangsan, Desa
Patihan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan ini sesekali memegangi
dadanya sambil menahan sakit.
“Dia memang sesak napas sejak disiram air keras sama ayah tirinya,” tandas sang ibu.
Meski tak pernah mengeluh, namun tiap kali sesak itu mendera, Samuel
tak sanggup membendungnya. Tiap kali kambuh, ia pun meminta Ismiatun
untuk mengantarnya ke puskesmas.
“Hanya bayar Rp 10 ribu (biaya administrasi, red) dan pulangnya dapat obat,” lanjutnya.
Namun usaha pembuatan batu bata merah yang dilakoni Ismiatun saat ini
juga sedang mandeg. Menurut ibu dua anak ini, modalnya habis untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat nenek Samuel yang
sedang sakit.
[post_ads_2]
“Kalau pulang sekolah Samuel biasanya membantu menjemur bata merah.
Kadang mencampur tanah bahan bata juga. Tapi sekarang ini berhenti
sementara mas, neneknya Samuel sakit dan modal akhirnya habis buat
kebutuhan sehari-hari,” terangnya.
Kisah hidup Samuel kemudian menjadi viral di media sosial. Unggahan tentangnya pun membuahkan banyak respons positif.
Untungnya sejak Samuel mengalami nasib tragis tersebut, sang ayah
tiri akhirnya diamankan oleh polisi dan dibui. Fakta ini mengklarifikasi
pernyataan di media sosial yang mengatakan Samuel kerap disiksa oleh
ayah tirinya. Kejadian penyiraman air keras juga sudah berlangsung lama.
Namun memang kondisi Samuel sudah lama membuat banyak warga merasa iba lalu memberikan bantuan untuk keluarganya.
“Alhamdulillah banyak yang menaruh iba dan memberikan bantuan uang
dan ada juga kiriman sepeda dari daerah-daerah yang tahu kondisi Samuel.
Dari desa tiap bulan dapat bantuan beras juga,” ungkapnya.
Pascakejadian penyiraman, Haryanto harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya karena telah menganiaya Samuel yang saat itu masih berumur 5
tahun.
“Bapaknya sudah diproses hukum dengan vonis 10 tahun penjara,” terang tante Samuel, Yanti.
Tak hanya dipenjara, ibu Samuel, Ismiatun langsung menceraikan pria yang telah dinikahinya sejak tahun 2012 itu.
“Sejak kasus itu saya langsung memproses cerai. Soalnya anak saya
juga trauma kalau mendengar nama ayah tirinya,” tutur warga Desa
Patihan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan tersebut.
Namun belakangan Yanti mendengar bahwa Haryanto sudah menghirup udara bebas per bulan Desember 2018.
Pihak keluarga tak tahu pasti alasan apa yang membuat pelaku bisa
dibebaskan. “Padahal baru menjalani hukuman 5 tahun tapi infonya sudah
bebas,” ujarnya.
Sebelumnya, Haryanto awalnya diketahui bukan sekadar menyiramkan air
keras ke wajah Samuel tetapi meminumkan air keras ke mulut Samuel namun
tumpah, sehingga hanya mengenai separuh wajahnya saja.
Menurut nenek Samuel, Winih, saat itu Haryanto mengaku jengkel dan
menganggapnya nakal. Padahal Samuel kecil menangis semalaman karena
sedang flu dan demam tinggi. “Katanya nakal rewel tiap malam, padahal sakit demam Samuelnya waktu itu,” kenangnya.